Masalah dan Derajat Manusia - Lawupos Santun dan Bermartabat - Lawupos Santun dan Bermartabat Masalah dan Derajat Manusia - Lawupos Santun dan Bermartabat

Masalah dan Derajat Manusia

Oleh on 4 February 2011  Dilihat sebanyak : 135 Kali

Arief Suryono (lawupos)

lawupos.net: Rumah bercat kuning hijau nan rimbun dan sejuk karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di pekarangan menjadi target LAWU POS, Selasa (11/1/2011). Di rumah rindang jalan Cokrowijoyo No.7 Madiun itu LAWU POS disambut tuan rumah dengan kemeja batik pola medetarian mengesankan ke-Indonesia-an tulen.

Kicauan burung dan kokok ayam jago mengiringi kedatangan LAWU POS di kediaman Drs. Arief Surjono, mantan birokrat  yang kini menekuni tasauf dan budaya.

Suasana sejuk terasa ketika kami duduk di teras depan rumah. Tokoh yang satu ini memang cukup peduli lingkungan, pecinta hijau daunan. Di luar pagar rumahnya,  dipenuhi tanaman. Pohon mangga yang buahnya bisa dinikmati oleh siapa saja, lamtoro, pun pohon bambu yang meliuk-liuk saat diterpa angin.

Terlebih di teras. Ada teratai, antorium dan anggrek. Selain itu juga terdapat beberapa pohon yang tumbuh langsung di tanah.

Selain tanaman, Mantan birokrat dengan jabatan terakhir Sekwan DPRD Kota Madiun ini ternyata juga pecinta jago dan burung perkutut. Anggungan perkutut di seling jago kluruk andil mengisi teras dan depan rumah nan asri tersebut

Tak tertinggal, di sudut ruang tamu, sebilah keris berdiri bertelekan aneka botol minyak wangi. Sebab diam-diam, Mas Arief, demikain tokoh yang satu ini akrab dipanggil, adalah seorang kolektor benda pusaka. Bahkan, dia sempat menjabat ketua Paguyuban Retno Dumilah. Wadah penggemar benda pusaka di wilayah Madiun dan sekitarnya.

Perbincangan hangat di teras depan mulai dengan personal LAWU POS sendiri sebagai bentuk perkenalan. Lambat laun lalu lintas dialog mengarah pada tujuan kami datang bertamu.

Makna Bahagia

Dialog kami diawali tentang makna bahagia dalam hidup. Menurut Drs Arief Surjono, kebahagiaan itu berkisar di ranah realitas psikologis. Yakni tercapainya sebuah kekarepan saat apa yang diidam-idamkan tercapai. “Kita bahagia apabila apa yang kita idam-idamkan tercapai, kita merasa marem atau puas.” terang pria 58 tahun ini.

Namun, kilah dia, konteks kakarepan itu musti sesuai dengan kekarepaning Allah SWT dan tidak melanggar aturan-aturan agama (wahyu Allah). Ringkasnya, sesuai dengan sunatullah ( berjalan dijalan Allah ).

Berbalik tegak lurus dengan kebahagiaan adalah penderitaan sebagai dampak dari persoalan yang muncul dalam kehidupan. Alumnus UNMER Madiun ini punya tanggapan tersendiri soal masalah dalam hidup.

Baginya masalah adalah hal tetap harus disyukuri. Sebab, masalah itu sesungguhnya identik bimbingan dari Allah SWT. “ Dalam kehidupan, selaku orang yang beriman saya berkeyakinan bahwa masalah yang muncul pada hakikatnya adalah bimbingan Allah dalam rangka kita dipersiapkan  akan diberikan derajat kehidupan yang lebih tinggi,”jelas ayah dari Arisa, Ariru, Amaru dan Amir ini

Lagi, tambah Mas Arief, ”Kalau ada masalah yang muncul berarti kita sedang dilatih oleh Allah agar bisa menyelesaikan masalah lain yang kita hadapi kelak. Kalau tidak pernah dapat masalah, derajat tidak akan naik-naik. Jadi kita harus bersyukur masih diperhatikan sama Allah.”

Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah yang tengah kita dihadapi? Mantan Camat Katoharjo dan Taman ini memiliki sebuah pegangan. “Masalah itu dari Allah untuk menguji dan membimbing kita. Jadi untuk menyelesaikannya juga harus dikembalikan pada Allah,”. “Tapi dengan begitu bukan berarti kita diam saja, kita selesaikan masalah dengan bantuan Allah, lewat ilmuNya dan anugrahNya yang diberikan pada kita layaknya indera, hati, pikiran, kekuatan dll” tambahnya.

Dengan begitu, tegas dia, kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan benar serta dapat bermanmfaat dan membawa hikmah, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain.

Ketentraman Dalam Keluarga

Mas Arief yakin selama menusia hidup selaras dengan sunatullah, manusia itu bisa hidup damai dan tenteram dalam berkeluarga. Sebab salah satu bentuk kebahagiaan dalam hidup adalah ketentraman berkeluarga.

Menurut dia, keluarga bisa tentram jika terjalin kerukunan. “ Kebahagiaan dalam keluarga itu akan tercipta jika ada kerukunan antar sesama anggota keluarga. Anak-anak menurut pada orang tua, dalam hal ini berhakti pada orang tua dan orang tua yang memberi wawasan pada anak-anak,” ujarsuami Maysaroh ini. “Karena kalau anak sudah mengerti kondisi dan aturan yang ada. Tinggal menyelaraskan dengan kemauan kita dan aturan agama,” tambahnya.

Setelah terasa enak dan lancar berdialog, hal penempatan anak dan istri dalam keluarga Mas Arief punya banyak jawaban. “Istri dan anak itu pendukung dalam keluarga, orang yang harus dilindungi, sayangi, dibimbing dan dijaga perasaannya. Selain itu anak dan istri juga bisa jadi teman dan pengingat saat kita salah.”jelas Arief. “dari awal sudah saya niatkan bahwa dalam keluarga harus saling menegur kalau ada yang salah. Jadi saat ditegur tidak akan sakit hati, akan tetapi cara menegur juga harus dengan kehalusan,” imbuhnya

Menyadari eksistensi manusia sebagai khalifah di bumi, Mas Arief berpedoman , manusia hidup harus bermanfaat bagi sesama. “ Kita harus manfaat disegala aspek, bagi lingkungan, terlebih bagi orang lain. Contoh untuk lingkungan, kita harus menjaga lingkungan agar tetap bagus, menyehatkan bagi manusia dan menyenangkan bila dipandang mata. Sedang bagi orang lain kita bisa berbagi kebahagiaan,rezeki serta ilmu, “ jelas pendekar yang sejak tahun 1992 dipercaya menjadi ketua PSHT DKP Madiun ini. Dengan begitu, tegas dia, hati menjadi puas, dapat tabungan akhirat dan keadaan sosial menjadi lebih baik.

Lantas menurut Arief, dharma merupakan sebuah kewajiban dalam hidup di dunia. “Sebagai contoh kita harus punya cita-cita untuk infaq, sodaqoh, dan berbagi. Kalau ikhlas dan dengan keridhoan Allah itu akan diganti, baik berupa materi atau yang lain seperti sehat, ketenangan dll. jadi jangan nunggu sampai kaya baru beramal.” Terang Arief memberi contoh.

Diakhir kesempatan, Pak Arief menerangkan bahwa kita harus memahami konsep kesamaan oleh Allah. Buktinya para umat yang kafir juga tetap mendapatkan nikmat dan rezeki oleh Allah, bukankah itu sudah menjelaskan. “kita harus memahami diri kita sendiri, bahwa kita dihadapan Allah itu sama. Yang membedakan hanyalah iman dan taqwa. Ar Rahman menjelaskan siapa saja diberi rezeki oleh Allah walau dia kafir. Tentu yang beriman akan ditambah dengan diberi keridhoan Allah dan kasih sayang yang kekal dunia akhirat ( Ar rahim ).”ungkap Arief dengan senyumannya

Dan sebelum akhirnya LAWU POS pamit, Mas Arief sempat berpesan untuk generasi penerus agar beriman dan bertaqwa kepada Allah dalam mengejar cita-cita agar punya niat yang kuat,berani,ulet dalam menyelesaikan masalah,berjuang tanpa mengenal menyerah dilandasi dengan hati yang ikhlas tanpa mengeluh,tidak suka menipu diri sendiri,dan tidak ragu-ragu insyaallah akan dicapai segala yang dicita-citakan,” jelas Mas Arief dengan bijak.(novi/anis)

About lawupos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>